Sedihnya Anak Sakit

Menjadi seorang ibu, tentu menjadi kesedihan dan kegundahan yang luar biasa saat anak sakit. Apalagi bila anak kita masih berumur di bawah 5 tahun, dimana masih memiliki banyak ketergantungan kepada orang tua dan orang-orang di sekitarnya.

Bahkan saya merasa berempati kepada para ibu bekerja, dimana tidak bisa mendampingi anaknya sepenuh waktu saat anak sakit, bayangkan harus berada jauh dari anak berkonsentrasi pada pekerjaan sementara setengah hati berada di rumah.

Saat anak saya sakit yang pertama diperkirakan demam berdarah dan ternyata adalah Demam Typhoid (Tipus), sedihnya luar biasa, setelah memikirkan pengobatan yang harus dijalani, saat keadaan sudah tenang yang terlintas di benak saya adalah, bagaimana mungkin anak belum berumur 3 tahun bisa terkena Tifus? Bukankah dia belum jajan sembarangan, semua makanannya disiapkan dari rumah, dan kalaupun membeli tidak pernah dibeli di sembarang tempat.

Sempat saya menyalahkan diri sendiri, menyesal seakan saya teledor. Namun saat saya mampu berpikir jernih kembali, saya kembali pada keyakinan saya semula, harus jujur kalau sebagai orang tua, kita tidak akan pernah bisa melindungi anak kita 24 jam sehari selama hidupnya. Mungkin saja dia terkontaminasi Tifus saat dia bermain di playground, siapa tahu ada bekas penderita Tifus baru saja memegang mainan yang dipegangnya.

Atau mungkin di sekolah saat petugas sekolah membantunya sehabis buang air, siapa tahu petugas tersebut juga baru saja membantu anak lain yang carrier Tifus. Dan berbagai kemungkinan lain yang semuanya di luar kendali saya.

Namun tetap saja saya sedih anak saya sakit, kalau demam berdarah bisa dibilang bila sembuh akan sembuh normal, bila tifus tentu ke depan anak saya harus lebih berhati-hati karena bisa jadi lebih mudah terinfeksi ulang oleh penyakit yang sama ini.

Kata teman, kelelahan bisa membuat kambuh, mungkin yang dimaksudkan, saat kelelahan tentunya daya tahan tubuh akan menurun, sehingga mudah terkontaminasi ulang oleh Tifus. Demikian juga bila bersentuhan dengan makanan yang kurang bersih, tentu anak saya akan lebih rentan dibandingkan anak yang tidak pernah terkena Tifus.

Bayangkan harus membekali anak batita pengetahuan untuk menjaga dirinya sendiri. Dan bagaimana caranya mengerem aktivitas luar biasa supaya tidak kelelahan.

Saya harus mengambil segi positifnya, dengan terkena di usia dini, anak saya haruslah belajar untuk menjaga kesehatannya, harus tertanam kuat dalam dirinya pola hidup dan makan yang menjaga kebersihan, mencuci tangan dengan benar sebelum makan, mencuci tangan sesudah ke toilet, dan berbagai kebiasaan sehat lainnya.

Mungkin Tuhan memang membiarkan hal ini terjadi, bayangkan bila dia terkena di usia lebih besar saat dia sudah mengenal makanan jalanan yang biasanya membuat ketagihan, mengenal rasa pedas yang nikmat di lidah, serta beraneka makanan lainnya yang mungkin membuatnya sulit untuk mengerem nafsu makannya sendiri.

Saat saya berpikir positif, saya tidak lagi menyalahkan diri saya sendiri, karena sebagai orang tua bukan berarti semua hal yang menimpa anak saya dapat saya kendalikan.

Beginilah kenyataannya hidup di dunia, saya tidak akan pernah bisa memberikan kondisi yang dia inginkan atau ideal yang saya inginkan untuknya 24 jam sehari seumur hidupnya. Yang dapat saya lakukan adalah mempersiapkan anak saya untuk mandiri dalam kehidupannya. Dia harus bisa mandiri.

Tiap hari saya berdoa kepada Tuhan supaya diberikan kesehatan dan kesempatan untuk mendampinginya mencapai kemandirian. Karena hanya itulah yang dapat saya lakukan untuknya.

Sedihnya anak sakit hendaknya bukan membuat ibu semakin terpuruk, karena saat anak sakit, anak semakin membutuhkan ibunya untuk merawatnya, sehingga ibu haruslah mampu berpikir jernih setiap saat.

Bila sedih terus seakan kita terus meratapi permasalahan, padahal pikiran haruslah ‘solution focus’ berpikir pada solusi permasalahan yang ada. Bersama pasangan hendaknya saling bahu membahu bukan saling menyalahkan. Yang namanya anak bersama, tentunya tidak ada salah satu pihak baik ibu maupun ayah yang ‘senang’ anaknya sakit.

Saat anak sakit, ibu harus selalu sehat, karena stamina ibu haruslah luar biasa, berjaga di malam hari saat anak kesakitan tidak bisa tidur, menemani anak aktivitas di pagi dan siang hari, serta tetap merawat anak menuju sehat.

Kesedihan tidak akan membawa kita ke mana-mana, hendaknya ibu tetap melihat apa hal positif yang dapat dipetik dari keadaan sekarang, sehingga kita belajar dan mencari solusi apa yang dapat kita lakukan.

Sedihnya anak sakit, semakin mematangkan seorang ibu, mempererat hubungan dengan pasangan, dan semakin mendekatkan anak dengan orang tua.

Happy Parenting ….

 

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter

Incoming search terms:

  • cerits
  • sedih memikirkan anak sakit