Mendidik Anak dengan Hati seorang Ibu

Tanpa pernah membayangkan bagaimana cara mendidik anak, menjadi seorang ibu, sungguh merupakan suatu hal yang luar biasa bagi setiap wanita. Melihat anak yang keluar dari rahim tidak bisa apa-apa, memiliki ketergantungan penuh kepada orang-orang terdekatnya, sampai anak tersebut merangkak, berdiri, berjalan, berlari, bisa kita ajak berbincang-bincang sambil bergandengan tangan, mendengarkan celotehnya yang lucu manja menggemaskan.

Setiap saat seorang ibu mendidik anaknya, merupakan saat dimana ibu menumpahkan kasih sayangnya, impian dan cita-citanya menjadikan seorang anak menjadi anak yang baik, saleh, mandiri, penuh kebaikan.

Tiap menemui kesulitan, tidak pernah seorang ibu putus asa, harus selalu bersemangat, karena kasihnya kepada anaknya. Hal ini menjadikan saya berpikir seribu kali dan salut saat melihat seorang anak yang memiliki kekurangan tapi bisa berhasil dalam bakatnya (Misalnya penyanyi Andrea Bocelli yang tidak dapat melihat, tapi luar biasa dalam menyanyi), atau orang-orang ‘khusus’ yang berhasil dalam hidupnya, saya selalu membayangkan di belakangnya pasti ada seorang ibu yang ‘berkorban’ merelakan seluruh waktunya untuk anaknya.

Mendidik anak normal saja penuh tantangan, apalagi mendidik ‘anak khusus’, sungguh Tuhan luar biasa memberikan ibu-ibu ini sebuah hati yang seluas samudra sedalam lautan, sungguh tiada batas kasihnya.

Saya pernah membaca dari suatu artikel, prinsip dari Angelina Jolie, seorang ibu untuk 6 orang anak, dimana beliau membagikan tips nya, bahwa Angelina mendeteksi permasalahan anak menggunakan intuisi, tapi menyelesaikannya dengan logika. Kelihatannya mudah ya? Tapi saat kita berhadapan dengan anak kita masing-masing, pasti terkadang terasa ‘tidak tega’ dan berbagai perasaan lain saat kita harus bertindak sungguh tegas dalam mendidik anak kita. Dan terkadang kita harus melakukan hal yang nggak ingin kita lakukan. Meskipun kadang kita kelepasan ‘berkata kasar, atau tangan hampir melayang’ saat kesabaranan kita habis, saat kita kelelahan.

Kapan buah manis mendidik anak akan terlihat? Kita mungkin nggak pernah tahu ya, tapi saat anak kita bisa mengucapkan terima kasih tanpa disuruh, meminta maaf tanpa diperintah, tahulah kita bahwa anak-anak ini mendengarkan apa yang kita ajarkan.

Hati seorang ibu haruslah tanpa dasar, harus penuh keikhlasan, karena seringkali dalam perjalanan pertumbuhannya kelelahan yang dialami berbuah kekecewaan. Berbahagialah ibu yang anaknya menurut, cenderung mudah dididik, diarahkan, tapi tetaplah bersemangat ibu-ibu yang anaknya kerap ‘menyulitkan’ karena anak-anak ini juga membawa talentanya masing-masing.

Mendidik anak haruslah sepakat dengan pasangan, janganlah kita membingungkan anak dengan memiliki standard masing-masing yang berbeda antara ayah dan ibu. Apa yang dilarang ibu janganlah diijinkan oleh ayah. Selain itu anak akan memanfaatkan hal ini untuk keuntungannya semata, misalnya ibu menetapkan jam tidur malam jam 8 dan ayah jam 9 (menuruti anak), lalu selisih antara jam 8-9 itu bagaimana? Apakah ayah menemani anak bermain, ibu yang jadi disuruh menemani bermain, atau anak dibiarkan bermain sendiri?

Demikian pula soal keuangan dan membeli barang, jangan sampai salah satu pihak memanjakan anak, sehingga anak cenderung meminta apa yang tidak dituruti oleh ayah kepada ibu dan sebaliknya. Dimana bila ditarik panjang biasanya dapat menimbulkan favoritisme salah satu orang tua.

Mendidik anak sungguhlah suatu tantangan tersendiri, dimana kita harus belajar negosiasi, karena anak pada akhirnya akan memiliki kemauan dan jalan pikirannya sendiri, ibu yang mungkin seorang pimpinan di kantor nggak bisa begitu saja memaksakan kehendak kepada anaknya (sekalipun menurut ibu hal itu untuk kebaikan anak), karena rumah bukanlah kantor, anak bukanlah bawahan yang bisa ditekan untuk menuruti kemauan atasan.

Ibu jadi belajar negosiasi dan kompromi, demikian pula anak, keduanya sama-sama mencari jalan keluar yang sama-sama menyenangkan kedua belah pihak.

Terkadang sangatlah sepele, mungkin ibu ingin anak memakai baju batik untuk ikut menghadiri acara, dan anak ingin memakai baju santai yang menurutnya enak dipakai (bahkan mungkin anak maunya memakai piyama kesayangannya), lalu bagaimana? Bila dipaksakan mungkin harus ‘berperang’ dulu dimana keduanya nggak akan ceria lagi karena pasti ada yang kalah, dan kalau negosiasi dulu, bisa-bisa terlambat menghadiri acara penting.

Di kejadian-kejadian sehari-hari yang bahkan tampak sepele inilah mendidik anak terus ditantang. Antara kasih sayang, mengajarkan apa yang benar untuk dilakukan, bahkan mungkin harus tegas menindak anak demi kebaikannya.

Mendidik anak dengan hati seorang ibu sungguh tidak akan pernah habis… Ibu setuju?

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter