Tips Membeli Sepeda anak

Ibu dan ayah, ada yang membutuhkan tips membeli sepeda untuk anak? Hari ini saya bersama suami belajar sesuatu tentang kompromi dan negosiasi. Anak kami yang menjelang 3 tahun sudah saatnya berganti sepeda dari sepeda toda tiga yang didorong menjadi sepeda roda empat yang harus dikayuh sendiri.

Kelihatannya sepele ya? Tinggal ke toko membawa uang, memilih dan membawa pulang sepeda anak idaman dengan warna menarik kemudian anak akan senang. Benarkah?

Saya dan suami sudah bersepakat untuk mengajak anak ke toko sepeda, memang akan merepotkan, tapi tentu anak akan senang terlibat memilih sepedanya sendiri, tapi yang terpenting sesungguhnya kami juga memerlukan kehadiran anak kami supaya dapat diukur tinggi tempat duduk sampai pedalnya, dan mana yang ringan untuk dikayuh oleh kaki kecilnya.

Masih terlihat mudah ya untuk membeli sepeda anak? Kenyataannya sepeda di toko yang saya survei sebelumnya tidak ada yang menarik hati anak kami, bahkah dia bersikeras untuk pulang dan nggak mau mencoba sepeda pilihan kami yang menurut kami ‘cute’ dan aman untuk dinaikinya.

Akhirnya kami mengalah dan memutuskan untuk mencari dan membeli sepeda anak di tempat lain, kami mendatangi 2 toko lainnya. Terutama yang memiliki lebih banyak pilihan sepeda dengan harapan akhirnya ada yang dipilih oleh anak kami.

Oh ya, tentang toko pertama yang kami datangi, karyawan penjaga toko biasa saja, tidak mengarahkan, hanya menjawab apa yang kami tanyakan, nggak terkesan dia membantu anak kami untuk memilih sepeda yang cocok.

Dan toko yang juga kami survei sebelumnya, lebih nggak menyenangkan lagi, karena saat kami bilang akan kembali lagi membawa anak kami, pemilik toko menganjurkan kami untuk membeli dulu saat itu, aneh kan? Yang naik sepeda kan anak kami, kenapa dia harus memaksa kami membeli, padahal kesenangannya tentu menaiki sepeda pilihan sendiri kan? Langsung saya putuskan, saya tidak akan kembali ke toko tersebut, belum lagi pemilik toko yang maaf melayani pembeli dengan merokok, yang menurut saya tentu nggak baiklah membawa anak kecil ke sana. Asap rokok kan nggak sehat?

Lanjut ya, cerita perjalanan membeli sepeda kami, soalnya kami mau berbagi tips membeli sepeda anak.

Kami memasuki toko berikutnya, tidak ada penjaga toko yang menyambut dan menghampiri kami, karena anak kami segera meminta keluar toko, ya akhirnya kamipun pindah toko lainnya.

Toko berikutnya lagi, pemilik melayani kami, tapi nggak mengeluarkan banyak pilihan, hanya mendorongkan apa yang ada di depannya, memberikan warna, dan saat kami kurang sreg dengan penutup roda belakang, dengan mudah dia menjawab: semua sepeda anak seperti itu. Dan saat terlihat kami tidak akan membeli, pemilik toko ini pun membalik badannya (mungkin dipikir menghabiskan waktu saja untuk melayani kami, karena terkesan kami akan menurutkan anak saja, tidak bisa memutuskan).

Akhirnya kami berpindah toko lagi, toko ini sebetulnya mungkin akan menjadi toko terakhir yang saya datangi. Saya memang membeli sepeda sebelumnya di toko ini, tapi karena tokonya kuno dan tidak bersinar, saya sebetulnya agak ‘malas’ mengajak anak saya ke sana. Karena saya ingin memberikan toko yang bersih dan menyenangkan untuk memilih sepeda.

Tapi seperti pepatah “jangan menilai buku dari sampulnya” di toko inilah, kami bertiga mendapatkan ‘pelayanan’ terbaik. Begitu di pintu toko seorang wanita penjaga toko menanyakan apa yang kami cari, kualitas yang bagaimana, dan memberikan beberapa pilihan.

Saat kami terlihat tidak puas dengan pilihan yang ada, kami diberikan lebih banyak pilihan. Bahkan pemilik toko turun tangan menjelaskan dan memberikan penjelasan beberapa perbedaan merek, bahwa merek Wimcycle adalah yang paling empuk untuk dikayuh anak-anak, dan ada 2 merek lainnya yang hampir sama kualitasnya dan hanya berbeda di gambar kartunnya.

Belum cukup, pemilik toko meminta pegawainya untuk merakitkan 2 sepeda dari gudang untuk dicoba anak kami, bahkan saat kami bilang belum tentu kami membeli, dijawab dengan ramah: tidak mengapa.

Kamipun menunggui perakitan sepeda, dan mencoba cukup lama untuk memastikan anak kami menyukai sepedanya dan memang itu pilihannya. Dan…. Benar, kami membeli sepeda di toko ini, bahkan saya berkata kepada suami saya: lain kali kalau ganti ukuran sepeda lagi, kita beli di sini saja.

Nah, kesimpulannya apa ya? Tentu saja jangan menilai service hanya dari penampakan tokonya, tapi masukilah dulu tokonya, dan alamilah pelayanan dari toko tersebut sebelum menilai.

Adapun tips membeli sepeda anak:

  • Ajaklah anak untuk memilih sepeda yang disukainya
  • Ajaklah anak untuk mencoba beberapa sepeda sebelum memutuskan (ibarat kita test drive sebelum membeli kendaraan bukan?)
  • Berikan pengalaman kepada anak, ajari anak memilih apa yang diinginkan dan cocok untuknya

Buatlah membeli sepeda yang kelihatannya sepele menjadi pengalaman menyenangkan untuk seluruh keluarga, semoga bermanfaat ya….

 

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter